oleh admin pada | 2025-12-28 20:07:37 Terakhir Diperbarui oleh admin pada2026-02-20 16:40:42
(Refleksi Pada Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria, dan Yusuf)
Oleh RD. Hiro Nani
Ketika kita berbicara tentang keluarga, kita sebenarnya sedang berbicara tentang pelabuhan asal dan cakrawala pertama kita. Keluarga adalah tempat pertama kita dikenal dengan nama, diterima tanpa syarat, dan belajar apa artinya dicintai. Di sanalah kita lahir, dibesarkan, dibentuk, bukan hanya tubuh kita, tetapi juga hati dan karakter kita. Karena itu, bagi banyak orang, keluarga bukan sekadar satu unit sosial, melainkan rumah batin tempat kita selalu ingin kembali.
Namun, bila kita jujur melihat realitas hari ini, gambaran indah tentang keluarga itu semakin sering retak. Keluarga yang seharusnya menjadi ruang aman justru bisa berubah menjadi ruang luka. Rumah tidak lagi selalu menjadi tempat istirahat, melainkan kadang menjadi sumber ketegangan. Relasi suami-istri rapuh oleh komunikasi yang buntu, oleh ego yang lebih ingin menang daripada mengerti. Anak-anak tumbuh bukan karena dibimbing, tetapi karena dibiarkan; bukan karena ditemani, tetapi karena dihibur oleh laar. Orang tua lelah, anak-anak kebingungan, dan keluarga perlahan kehilangan arah. Bahkan, tidak sedikit orang yang merasa lebih tenang di luar rumah daripada di dalam rumahnya sendiri. Inilah ironi keluarga zaman ini: tempat yang paling berharga justru bisa menjadi tempat yang paling ingin dihindari.
Dalam situasi seperti inilah bacaan-bacaan suci hari ini, teristimewa bacaan Injil, berbicara dengan sangat jujur dan konkret kepada kita. Ada 2 hal yang menjadi fokus permenungan kita pada Pesta Keluarga Kudus hari ini.
Pertama, keluarga tidak dibangun di atas kenyamanan, tetapi di atas tanggung jawab dan ketaatan.
Injil hari ini menampilkan Santo Yusuf sebagai pribadi yang taat dalam keheningan dan tegas dalam tindakan. Ia tidak diberi penjelasan panjang, tidak diajak berdialog tentang risiko, dan tidak diminta memastikan apakah ia sudah siap atau tidak. Injil hanya mencatat satu perintah dan satu respons. “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir” (Mat. 2:13). Perintah itu datang di malam hari, dalam situasi darurat, tanpa jaminan apa pun. Dan reaksi Yusuf pun sama singkatnya, namun sangat menentukan: “Maka Yusuf pun bangun, membawa Anak itu serta ibu-Nya pada malam hari dan menyingkir ke Mesir” (Mat. 2:14).
Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada keluhan. Tidak ada penundaan. Yusuf tidak bertanya apakah perintah ini adil, masuk akal, atau menguntungkan bagi hidupnya. Ia tidak meminta waktu untuk mempertimbangkan ulang. Ia bertindak, karena di hadapannya ada kehidupan yang harus diselamatkan. Injil dengan jelas menunjukkan bahwa ketaatan sejati sering kali tidak disertai kepastian, tetapi menuntut keberanian untuk melangkah dalam gelap.
Ketaatan Yusuf tidak berhenti pada satu keputusan. Setelah Herodes mati, perintah kembali pun datang: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel” (Mat. 2:20). Sekali lagi Yusuf taat. Namun Injil juga menunjukkan bahwa ketaatan tidak selalu berarti jalan lurus tanpa penyesuaian. Ketika ia mendengar bahwa Arkhelaus memerintah di Yudea, Yusuf merasa takut. Maka ia memilih untuk tidak kembali ke Bethlehem, melainkan menuju Galilea, dan menetap di Nazaret (bdk. Mat. 2:22–23).
Kedua, Allah masuk ke dalam sejarah manusia melalui sebuah keluarga yang nyata. Bukan keluarga yang ideal atau tanpa masalah, melainkan keluarga yang sungguh hidup, berjalan, dan bertahan di tengah ancaman.
Injil tidak pernah menggambarkan Keluarga Kudus sebagai keluarga yang statis. Mereka bergerak, mengungsi, kembali, dan menetap. Di dalam dinamika itulah Allah membiarkan Putra-Nya bertumbuh. Allah tidak memilih jalan yang abstrak atau simbolis, melainkan jalan relasional. Yesus tidak datang sendirian ke dunia; Ia datang dan dibesarkan dalam sebuah ikatan keluarga yang konkret, dengan sejarah, ketakutan, keputusan, dan tanggung jawab.
Kehadiran Maria dan Yusuf bukanlah kebetulan atau peran yang bisa dipertukarkan. Allah tidak hanya memberikan Yesus seorang ibu, tetapi juga seorang ayah. Maria dan Yusuf hadir sebagai dua pribadi yang berbeda, dengan peran yang khas, namun saling melengkapi. Ada keheningan dan penerimaan, ada pula tindakan dan perlindungan. Ada kasih yang mengandung dan merawat, ada tanggung jawab yang melindungi dan mengarahkan. Injil tidak menampilkan ini sebagai teori atau ideal moral, tetapi sebagai cara Allah sendiri membiarkan Putra-Nya menjadi manusia. Keluarga Kudus bukan model ideologis yang harus diperdebatkan, melainkan pilihan Allah sendiri tentang bagaimana kehidupan manusia dijaga, dibesarkan, dan diarahkan menuju kepenuhan.
Dari permenungan kita tentang bacaan-bacaan suci tadi, apa yang dapat kita bawa pulang untuk kehidupan kita?
Pertama, keluarga adalah tempat tanggung jawab, bukan sekadar tempat perasaan.
Keluarga tidak dibangun di atas kenyamanan, kecocokan, atau perasaan senang semata, melainkan di atas tanggung jawab yang dijalani dengan setia. Kitab Sirakh dalam bacaan pertama telah mengingatkan: menghormati orang tua, merawat mereka ketika menua, dan tidak melukai hati mereka ketika mereka melemah. Ini bukan nasihat sentimental, tetapi panggilan kedewasaan. Keluarga mulai rapuh ketika relasi hanya dipertahankan sejauh menyenangkan. Belajarlah dari pribadi Santo Yusuf. Ia tidak berdiskusi panjang, tidak mengeluh, tidak menunda. Ia bangun, membawa Maria dan Anak itu, dan pergi. Ia bertindak karena ada kehidupan yang harus dijaga. Di situlah keluarga berdiri: ketika seseorang berhenti bertanya “apa yang saya rasakan”dan mulai bertanya “apa yang menjadi tanggung jawab saya.” Keluarga runtuh bukan karena kurang cinta, tetapi karena terlalu banyak orang ingin dilayani dan terlalu sedikit yang mau memikul beban.
Kedua, keluarga hanya dapat bertahan jika dibangun di atas sikap batin yang dilatih setiap hari, bukan di atas perasaan yang naik turun.
Santo Paulus, dalam Surat kepada Jemaat di Kolose, tidak berbicara tentang keluarga ideal atau teori relasi yang indah di atas kertas, melainkan tentang kehidupan rumah tangga yang nyata, dengan segala gesekan dan lukanya. Ia menyebut sikap-sikap yang sangat konkret: belas kasih, kerendahan hati, kesabaran, pengampunan, dan kasih yang mengikat semuanya. Paulus bahkan sangat realistis ketika menasihati para istri, suami, anak-anak, dan orang tua, agar relasi dalam keluarga tidak berubah menjadi ruang dominasi dan saling melukai. Istri diajak hidup dalam relasi yang tertata di dalam Tuhan; suami diperingatkan dengan tegas agar mengasihi dan tidak berlaku kasar; anak-anak dipanggil untuk taat; dan orang tua, terutama para bapa, diingatkan untuk tidak melukai hati anak-anak agar mereka tidak tawar hati. Semua ini menunjukkan satu hal: dalam keluarga, saling melukai bisa terjadi, tetapi yang menentukan adalah apakah kita mau belajar mengalah dan mengampuni.
Yesus, Putra Allah sendiri, tidak langsung tampil berkarya. Ia menghabiskan hampir tiga puluh tahun hidup-Nya dalam keluarga, dalam kehidupan yang sederhana dan tersembunyi, belajar menjadi manusia di bawah didikan Maria dan Yusuf. Ia bertumbuh dalam relasi, dalam disiplin, dalam kehadiran orang tua yang nyata.
Sebaliknya, dalam banyak keluarga hari ini, anak-anak masih sangat kecil sudah dibiarkan berjalan sendiri: dilepas terlalu cepat, dipaksa mandiri sebelum waktunya, diberi kebebasan tanpa pendampingan. Akibatnya, anak tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Mereka kelihatan berani, tetapi miskin arah; percaya diri, tetapi mudah runtuh.
Keluarga hancur bukan karena tidak ada masalah, tetapi karena tidak ada kesediaan untuk merendahkan ego dan tetap mendampingi. Iman dalam keluarga menjadi sangat nyata dalam hal-hal kecil namun menentukan: dalam cara kita berbicara ketika lelah, dalam kesediaan tetap hadir dan tidak menyerah pada keadaan. Keluarga tidak membutuhkan orang-orang yang sempurna, tetapi pribadi-pribadi yang mau bertumbuh bersama, belajar mencintai dengan lebih dewasa, dan setia setiap hari.
Hari ini, Keluarga Kudus mengundang kita untuk bertobat dalam cara memandang keluarga. Bukan lagi bertanya, “keluarga seperti apa yang saya inginkan,” tetapi “kebaikan apa yang sungguh dibutuhkan oleh mereka yang Tuhan percayakan kepada saya.” Tidak semua yang mungkin itu baik. Bagi Putra-Nya sendiri, Allah memilih sebuah keluarga, dengan ibu dan ayah, sebagai ruang pertumbuhan manusiawi dan ilahi. Menjaga keluarga, merawat perbedaan, dan setia dalam relasi bukanlah sikap kuno, melainkan tanggung jawab iman demi masa depan manusia.
Keluarga adalah Gereja Domestik (Gereja Kecil). Mari kita jadikan rumah kita bukan sekadar bangunan fisik, tetapi sebuah tempat di mana setiap anggota keluarga merasa aman untuk dicintai dan diterima apa adanya, persis seperti Yesus yang bertambah besar dan berhikmat dalam asuhan Maria dan Yusuf yang penuh kasih. Jangan takut jika keluarga kita belum sempurna, karena Tuhan memilih lahir dalam kesederhanaan, bukan dalam kesempurnaan.
Semoga Yesus, Maria, dan Yusuf memberkati setiap langkah, perjuangan, dan kasih dalam keluarga kita masing-masing. Tuhan Memberkati Kita Sekalian
Kupang, 28 Desember 2025
Resah UMKM Beralih Jadi Penjual Barang Impor China, Maman Harus Apa?
Setelah Marketplace, Pemerintah Bakal Incar Pajak dari Media Sosial
Resah UMKM Beralih Jadi Penjual Barang Impor China, Maman Harus Apa?
Setelah Marketplace, Pemerintah Bakal Incar Pajak dari Media Sosial