Rohani Katolik

Natal, Perdamaian dan Keluarga

oleh admin pada | 2025-12-25 22:08:37

Membagikan: Facebook | twitter | Whatsapp |


Natal, Perdamaian dan Keluarga

Dalam pesan Natalnya pada tanggal 23 Desember 2025, Paus Leo XIV menyerukan perdamaian secara global. "Setidaknya pada hari raya kelahiran Juru Selamat, satu hari perdamaian dapat dihormati.” Demikian disampaikan Paus Leo XIV dari Castel Gandolfo, rumah peristirahatan Paus di luar Kota Vatikan di Kota Roma.
Masih tentang konflik Ukraina, di mana serangan besar-besaran Rusia telah menghantam beberapa wilayah dalam beberapa jam Paus Leo berkata, “sungguh, di antara hal-hal yang menyebabkan saya sangat sedih akhir-akhir ini adalah kenyataan bahwa Rusia tampaknya menolak permintaan gencatan senjata Natal,”  kata Paus.

Paus Leo mengajak semua pihak untuk menghentikan pertempuran selama 24 jam. Menurutnya, momen Natal seharusnya menjadi ruang refleksi bersama untuk menempatkan kemanusiaan di atas konflik. 

Mengapa Paus Leo menyerukan perdamaian secara masif dan terus menerus? Ini bukan sebuah kebetulan, namun sejak ia dipilih, Paus Leo memandang makna kehidupan jauh lebih dalam. Ia menekankan bahwa perdamaian adalah "hadiah pertama dari Kristus," namun manusia bertanggung jawab untuk menjaganya melalui dialog yang tulus dan rendah hati.
Bahwasanya setiap orang berhak hidup aman, nyaman dan tenteram tanpa adanya tekanan apalagi penindasan.

Perdamaian bukan sekadar "absennya perang", melainkan sebuah kondisi aktif yang berakar pada keadilan dan kebenaran.
Memandang konflik antar negara, antar golongan bahkan konflik dalam keluarga, Paus Leo selalu menyerukan perdamaian.

Dalam kaitannya dengan relasi dalam keluarga, Paus Leo mengatakan bahwa keluarga adalah sekolah kemanusiaan. Di dalam keluarga, nilai-nilai seperti pengampunan, solidaritas, dan kasih sayang diajarkan. Jika perdamaian tercipta di rumah, maka perdamaian di dunia akan lebih mudah diwujudkan.

Sementara itu Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni dalam Surat Gembala Natal 2025 mengatakan bahwa Natal adalah pewartaan agung bahwa Allah sungguh tidak jauh dari kita. Melalui peristiwa inkarnasi penjelmaan sabda menjadi daging dan Allah masuk ke dalam sejarah manusia, ke dalam rumah-rumah, keluarga-keluarga, komunitas-komunitas.

Menurut Mgr. Hironimus, Natal mengajarkan kita bahwa keluarga bukanlah sekedar lembaga sosial buatan manusia, melainkan tempat yang kudus, tempat Allah tinggal, berbicara dan menyelamatkan.

Benang merah dari apa yang diserukan oleh kedua tokoh gereja Katolik ini adalah bahwa mereka mengajarkan umatnya tentang kerendahan hati untuk saling menerima kekurangan dan mengakhiri konflik dengan berdamai. Hal ini bukanlah hal yang mudah, namun kekuatan doa dan pengharapan akan mampu mengalahkan kejahatan, kebencian dan permusuhan yang membinasakan. Allah hadir dalam keluarga-keluarga, maka sepatutnya seluruh umat memelihara hati yang damai. 
Salam Damai Natal 2025
(MTU)


Tinggalkan Komentar